Selasa, 29 September 2009

Jangan Sembunyikan Dariku

Semakin nggak jelas
kenapa cuma diam dan membisu?
menyembunyikan tangan dibalik tubuh itu
ayo, jelaskan semuanya
aku terlampau lugu tapi aku bukan si dungu,

Minggu, 27 September 2009

Roda-roda Kereta

Aku tak pernah memiliki cinta

Merasakannya pun aku tak mampu

Sangat sulit untuk mendapatkannya

Kamu yang aku mau...

Kenapa kau ku temui

Jika kini akhirnya kau pergi

Sejenak ku tengok klise kisah lalu

Tuk hilangkan rasa haus akan dirimu...

Sebelum roda-roda kereta membawamu pergi dari hadapanku

Ucapkanlah kalimat yang slalu ku tunggu

Ku bersinar dikelilingi kunang-kunang

Namun kau tak kunjung bilang...

Perbedaan Dua Kutub

Terhimpit menyesali waktu yang semakin sempit
waktumu tlah habis disini dan kau kan kembali ke peraduanmu
ntah kapan kita kan bertemu ataukah mungkin dipertemukan
ku ingin kau tetap disini mengisi tiap hariku, tiap detikku dan biar bumi ikut tersenyum mendengar jerit tawa kita

Kau bilang aku mengajarkan banyak hal
lalu kenapa kini kau pergi tanpa perduli olehku yang sepi
kau pun membuatku sadar, belajar tanpa kepedulian, acuh oleh hidup yang tak menyenangkan, terserah apa kata orang
Yang terpenting diri sendiri bagaimana menikmati hidup dan aku tak mengubahnya
hal itu bagai sebuah magnet yang menarikku dalam perbedaan

Kesamaan itu justru menjadi sebuah pemecah seperti magnet berkutub sama yang akan selalu tolak menolak
perbedaan yang dapat menjadikan kita tetap bersama hinnga akhirnya kau pergi untuk suatu kemuliaan

Aku tak melarangmu karena aku tak melupakanmu
berharap kau pun begitu...

Jumat, 25 September 2009

Gerbang Utama Itu

Berjanji bertemu dijalan setapak

Hamparan toko sepatu membuatku bingung mencari

Kau bilang diujung sini, tapi belum juga kau menampakan diri

Sedikit demi sedikit kau nyata

Menghampiriku dari gerbang utama

Inikah yang dibilang kesenangan, dapat melihatmu yang dulu hanya diangan

Jarimu mulai menjabatku

Masih tak menyangka kini kau disampingku

Walau hanya sesaat, rona bahagia tak mampu ku sembunyikan

Berkali ku memandangmu

Semua masih sama tak ada yang berubah

Tawamu yang selalu mengingatkanku, hingga ku tak ingin kita berpisah

Namun ku tak dapat berbuat lebih

Kau sendiri yang menentukan jalan hidupmu

Bukan aku, karena aku bukan siapa-siapamu

Untuk saat ini, ntah dihari yang akan datang

Temui aku digerbang utama itu beberapa saat mendatang...

Saturday, 22 Aug 2009

Keraguan

Tertidur lelap ditengah hamparan buku

Lembar per lembar ku goreskan dengan pensil mekanik ku

Tak ku sadari penat sudah menyelimuti

Getar telepon genggamku

Memanggil membangunkanku untuk segera melihatnya

Penatku hilang setelah membaca nama itu

Suara sayup ku lontarkan

Terdengar keceriaan diseberang sana

Aku masih meragukan

Apakah benar ini dia

Tuhan, ternyata ia tak melupaiku

Seperti tanah kemarau yang kembali ditetesi embun

Tenang mendengar suaramu

Berbagi cerita setelah berhari-hari melamun...

Aku & Dia

Ya, aku memang tak bisa menjadi seperti dia
karena aku bukan dia dan aku tak ingin menjadi dia
kau mau bicara apa terserah karena aku adalah aku
tapi bukan berarti aku tak peduli olehmu
ku sungguh mengertimu
Dan kau tidak, cobalah kau tengok sedikit saja tentang aku
belajarlah memahamiku
tapi bukan berarti ku lelah memahamimu
ku hanya ingin kesadaranmu tentang kehadiranku
Ya, aku yang selalu ada
membawamu pergi melepaskan penat dirimu
kala gundah menghampirimu
kala bosan menjemputmu

Kamis, 24 September 2009

SOR

Langit kelam di hari lalu pudar tak tersisa
kau datang menghampiri saat ku tak tau harus bagaimana
malam itu hingga dinihari kita terus bersama berbagi kesenangan ditengah jalan keramaian
gurau tawamu menghapus semua rinduku yang slama ini bersarang
ucap lucumu menghapus kesedihan akan terfikirnya kehilanganmu
tatap matamu membuatku slalu ingin memandangnya dan berharap ku tetap bisa menatapnya
tak terbayang kesenangan menghampiri
asal kau disini ku pasti kan slalu tersenyum
hingga pagi tiba saatnya kita pulang dan jangan lupakan kisah panjang ini

Rabu, 23 September 2009

Bukan Malam Tapi Hatimu

Kau mengulangnya lagi

Lagi, lagi, dan lagi

Hingga tak dapat ku hitung semua, aku hanya dapat mengelus dada...

Benci hal ini terus terjadi

Tapi kenapa kau yang melakukannya

Membuatku tak bisa marah, tinggal berdiam diri...

Hanya merenungi kebodohan

Terjebak dalam kemunafikan

Kehilangan jejak ditengah kegelapan, bukan malam tapi hatimu...

Letih sempat singgah dalam diri

Tapi aku takkan jenuh

Aku pun terus mencari, meski ku tau akhirnya kau kan jauh...